Saturday, June 30, 2007

The Leader Of Spindi’s OSIS

Ni dia nich, ketua OSIS qta. Si cwe’ penghuni kelas IX B ini memiliki nama lengkap Apriliannita Eka Putri, but dia memiliki nama panggilan yang bervariasi di tiap jenjang pendidikannya, seperti waktu ia duduk di bangku TK, dia di panggil Poetri oleh teman-temannya. Last at Sekolah Dasar, ia kerap kali di panggil Poe-poed’z, n’ buat saat ini dia akrab dengan napang Apriel. Hmm… kira-kira ntar k’lo SMA, di panggil apa yach…?

Di balik wajahnya yang anggun nan elegan, ternyata tersimpan sebuah ketegasan yang luar biasa lho…! Berkat ketegasannya itulah dia berhasil meraih buu…anyak banget’z prestasi. Pemilik zodiac “Taurus” ini ternyata memiliki badan yang lentur, buktinya aja ia pernah meraih juara II Gerak dan Lagu, serta menjadi juara III lomba Tari. Tapi, mending g’ usah jauh-jauh dech, dia kan sekarang jadi anggota Cheer Leader of SPINDI.

Buat seluruh sobat n’ pembaca MaC’z, Apriel punya bingkisan berupa kata-kata lho buat kalian, yaitu…:

- Untuk bapak kepala sekolah & bapak ibu guru teruma kasih atas bimbingannya, maaf kalau April berbuat salah

- Buat temen-temen se-angkatan, “perjuangan kita belum berakhir!” sukses UNAS-nya!! Don’t forget me!!

- Buat adek-adek kelas yang imoet, lanjutkan perjuangan kakak-kakak kelasmu! Teruma anank-anak OSIS yang baru, “ Prapre the cool events”!! teruskan perjuanganmu kawand-kawand.

APRIEL PROFILE

Nama Lengkap : Apriliannita Eka Putri

Nama panggilan :TK:Poetri,SD:Poepud`z,SMP:Apriel

Tempat :Sidoarjo’’Lumpur area’’

Tanggal :’’10+12=…’’April 1992

Lahir :Di depan rumah’’RSI Siti Hajar’’

Zodiak :Ce’ Banteng (Taurus)

Shio :Monyet (Tapi g’ mirip loch…)

Agama :Islam

Alamat :Jl.Raden Patah PDAM 1/16

Hobby :Travel, Mengarang cerita, Dance, Foto, Koleksi baju, buuanyak dech!!Tergantung “Mood” juga sich…!!!

Cita-cita :Be successful women(World and the hereafter)

Idola :”My Lovely Mum”

Mafa :Yang halal,menyenangkan.”Masakan Mama”

Mifa :Avocado float

Pelajaran yg disukai :Pelajaran yg bisa dipelajari

Pelajaran yg g’ disukai :pelajaran yg g’ bisa dipelajari

Motto :”Contents U’re life with positive education”

Prestasi yg pernah diraih:

- Juara II Gerak dan Lagu tingkat Taman Kanak-kanak se-kab. Sidoarjo 1997

- Juara III tari tingkat SMP se-kab. Sidoarjo 2006

- Joirnalist Deteksi party 2006 se-Sidoarjo, Surabaya, Gresik

- Journalist Deteksi Basket Ball 2006 se-Sidoarjo, Surabya, Gresik

- Juara II cheer leader 2006 se-kab. Sidoarjo

- Juara III pidato Bhs Inggris 2006 se-kec. Candi

( MIRZA & AYU; Redaksi MaCanssa )

Student days

Hai sobat MaC’z…

Tanggal 04 Juni kemarin kalian study tour ‘kan? Gimana, asyik tidak? Lalu tanggal 05-nya ada Student Day. Apalagi di hari akhirnya ada pemilihan Putra-Putri Spindi. Wuih! Tiga hari penuh senang-senang tuh…! Tapi apakah kalian sadar, mengerti atau sekedar mengetahui bahwa sudah berapa sampah menumpuk berserakan disi kanan-kiri kalian? Coba tengok deh kanan-kiri atau kolong bangku kalian. Tuh, ada bungkus permen ‘kan?

Meski sebagus atau semeriah apapun sebuah event diadakan, sampah tak pernah lepas dari kita. Saat kalian meninggalkan bus usai study tour kemarin, apa kalian pernah untuk sekadar mengetahui sampah yang berserakan di dalam bus? Mulai dari pertama kali masuk bus sekitar pukul 07:30 hingga kembali ke SMPN I Candi sekitar pukul 18:45. sudah berapa sampah yang ter-koleksi?

OSIS SMPN I Candi emang nggak pernah kehabisan ide buat kalian semua. SMPN I Candi nggak hanya hebat di prestasi bidang study (kurikulum) nya saja, ekstra kurikulernya juga. Tak kalah, kretifitas OSIS dan siswanya juga patut diacungi jempol. Buktinya saja beberapa bulan lalu kita juga mengadakan Sudent Day “X-Twind Spindi” kan? Nggak hanya itu, kegiatan ini sudah menjadi agenda wajib OSIS lho. (^_^) Wah, berarti makin banyak sampah dong! (hihihi)

Untuk mensiasati agar tertanam kesadaran diri serta melatih siswa peduli lingkungan. Pada hari pertama dan hari kedua Student Day diadakan lomba kebersihan kelas. Tapi bukan berarti kita cuma bersih-bersih ketika ada lomba Kebersihan atau Hari Pembiasaan yang dilakukan tiap Jum’at yang bergantian dengan Senam dan Istighosah saja lho. Dengan adanya kegiatan Student Day seperti itu, siswa menjadi jauh lebih semangat untuk melakukan bersih-bersih. (Tergiur hadiahnya, kalee’).

Untuk Bulan ini, jadwal Study tour adalah ke Jatim Park II dan Goa Maharani. Dengan latar belakang menghadapi era globalisasi maka siswa harus digembleng agar menjadi pribadi/ SDM yang bermutu. SMPN I Candi mengadakan acara Study tour yang bertujuan untuk membekali siswa secara outdoor dan acara student day dengan bertujuan agar siswa mempunyai waktu refreshing dari kejenuhan belajar selama semester ini. Dana study tour terbilang murah yaitu sekitar 130.000 per-siswa.

Pada tanggal dan 05 dan 06 Juni dilanjutkan dengan student day. Nah, pada dua hari ini siswa berlomba-lomba menunjukkan kretifitas mereka. Wuih….? Ada banyak sampah tuh yang berserakan. Weits, tapi disini tiap kelas dituntut harus bersih selalu. Itu juga dilombakan.

Last, tanggal 06 Juni nya ada kompetisi “Pemilihan Putra-Putri Spindi” Ini dia yang paling seruuuuu!! Ada sekitar 14 pasangan Putra-Putri dengan jumlah 28 peserta yang ikut berkeompetisi. Disini nggak hanya bertaruh kemolekan wajah atau buat ajang cakep-cakepan. Smart skill tiap peserta juga diuji dan dikeompetisikan. Wuih…! Udah kayak pemilihan Guk dan Yuk dong!

Acara semacam ini terbilang baru untuk anak SMP. Biasanya acara semacam ini diadakan ketika hari Kartini atau Hari Ibu. OSIS Spindi memang kretif. Gru-gurunya juga selalu mendukung. Nggak rugi buat gabungan di SMPN I Candi.

Juri dalam penilaian “Pemilihan Putr-Putri Spindi” adalah Pak Wahyuaji, Bu Indun Saadah, Bu Tri, Pak Slamet, Kak Juli Prasetyo dan bu Titiek. Dalam pemilihan Putra-Putri Spindi ada 2 kali gelombang usai karantina. Pertama, penyisihan 7 pasangan. Kedua, pemilihan Juara I dan Runner-Up. Pada gelombang terakhir, tiap peserta ditantang untuk memperlihatkan bakat seninya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, berpuisi, melawak dll.

LINTASAN PERISTIWA SPINDI

Tanggal 4 Juni 2007 siswa kelas VII dan VIII Spindi melakukan kegiatan karya wisata ke Lamongan. Kegiatan ini selain untuk memperdalam ilmu pengetahuan juga bertujuan untuk membuat pikiran teman-teman menjadi frees kembali. Maklum sudah lama sekali mereka tidak melakukan kegiatan wisata seperti ini.

Tanggal 21 Mei 2007 siswa SMP Negeri 1 Candi memperingati Hari Kebangkitan Nasional dengan melakukan upacara. Dalam kegiatan ini terjadi peristiwa yang sangat membanggakan almamater spindi, yaitu penyerahan berbagai piala kejuaraan dari siswa ke sekolah. Yah… maklum spindi kan sudah dikenal sebagai juara dalam segala hal. Nyombong dikit gitu loh!

Tanggal 7 Juni 2007 kakak kelas kita melancong ke Bali. Mereka melepas kepenatan setelah mengikuti ujian nasional yang sangat mendebarkan selama tiga hari. Kegiatan itu sekaligus merupakan acara perpisahan kelas IX dengan guru dan wali kelasnya. Ada acara pentas seni, penyerahan cindera mata, salam tangis, canda tawa, dan berbagai keceriaan yang dengan bebas mereka ungkapkan. Pada kesempatan itu kakak-kakak kita juga berkesempatan mengunjungi berbagai objek wisata di sana.

Tanggal 6 Juni 2007 spindi menggelar acara studens days. Dalam acara ini berbagai kegiatan lomba digelar dengan menarik. Uniknya pada students days kali ini ada satu acara yang paling spektakuler, yaitu pemilihan guk dan yuk spindi yang mirip-mirip miss univers gitu loh! Lalu juaranya siapa? Baca aja rubrik artis kita.

Tanggal 5 – 6 Mei 2007 para guru mengikuti pelatihan coahing and counseling yang dimotori oleh Bapak Abdul Madijd. Kegiatan ini bekerja sama dengan Quality and Leadership Institut Surabaya. Nara sumbernya Bapak Ahmad Farouq yang tinggal di Perumahan Larangan Mega Asri Sidoarjo. Dalam pelatihan itu banyak sekali hal-hal baru yang didapat para guru sehubungan dengan ilmu psikologi anak.

PRESTASI SISWA-SISWI SMPN I CANDI

JANUARI – JUNI 2007

WAKTU

KEJUARAAN

PERAIH

Januari 2007

Juara 1 lomba inovasi karya tulis kategori pelajar se-Kabupaten

Chyntia Paramhita (IX A)

Februari 2007

Juara 1 Lomba Kejurda silat Bayu Putih Se-Kabupaten Mojokerto

Vijayanti (IX A), Denny (IX A), Pradita (IX A), Vani (VIII D)

Maret 2007

Juara harapan I lomba beregu "Pertolongan Pertama Putra"

Kelompok

Maret 2007

Juara harapan I lomba "Pendidikan Remaja Sebaya"

Irning Atsilah (VIII C), Muh. Fahrizal (VIII C)

Maret 2007

Juara harapan I lomba "Perawatan Keluarga Sebaya"

Ani Puspita (IX C), Dian Eka (IX C), Jannatun (IX C)

Maret 2007

Juara harapan lomba beregu "Pertolongan Pertama Putri"

Kelompok

Mei-07

Juara I Futsal Smantarda Cup

Kelompok

Mei-07

Juara II Pencak silat Kejurda Kab, Mojokerto

Kelompok

Mei-07

Juara II Bulu Tangkis Putri Bupati Sidoarjo Cup

Mirda VIII B

Mei-07

Juara Harapan I PMR SMEA Diponegoro

Kelompok

Mei-07

Juara III Bola Basket Putra Mutiara Bunda Cup

Kelompok

Jun-07

Juara I MTQ Pelajar Putri PORSENI Kabupaten Sidoarjo

Lailatun VII A

Jun-07

Juara II Bulu Tangkis Putri PORSENI Kabupaten Sidoarjo

Mirda VIII B

Jun-07

Juara I Bola Volley Putra PORSENI Kabupaten Sidoarjo

Kelompok

Siapakah Miss SPINDI pertama?

Dari 28 peserta Putra-Putri Spindi, Putri dengan nomor peserta 01 berhasil menyabet kedudukan sebagai Putri Spindi dengan perjuangan yang cukup baik. Selain sebagai Putri Spindi, dia berhasil pula menyabet Juara I Pasangan Putra-Putri Favorit bersama Putra dengan nomor peserta 01 dengan jumlah suara …. Mau tau siapa dia?!

Yap…! Nur Stefani Dwi Putri, dara 13 tahun yang lahir di kota Sidoarjo tercinta pada tanggal 19 September 1993 itu berhasil menjadi jawara pada Lomba Putra-Putri Spindi beberapa minggu lalu. Siapa sih yang nggak kenal dengan maskod-nya 8c ini? Cewek dengan fisik yang cukup sempurna, tubuh molek dan cantik, dengan tinggi 148 cm dan berat 45 kg ini akrab disapa Stefeni atau Feni.

Cewek yang tinggal di Jln. Raden Pateh Siti Hajar No. 16 mengaku senang dengan Lomba yang diadakan oleh OSIS SMPN I Candi. “Kalau ditanya senang atau enggak… Ya jelas, senanglah! Bagiku ini sesuatu yang baru. Seingatku, kayak Guk dan Yuk aja deh. Lagipula, jarang banget lho anak SMP yang punya inspirasi bikin lomba macam begini diluar Hari Kartini. Kalau pas Hari Kartini sih masih biasa. OSIS Spindi emang top abis. Apalagi Ketua OSIS-nya tuh yang kasih usulan, Kakak ku tercinta emang kreatif deh!”

Bukan hanya Juara dalam Putra-Putri Spindi saja, cewek dalam naungan Virgo ini punya banyak segudang prestasi lagi. Misalnya; dalam Lomba Seni Tari, Dance, Marching Band, bahkan terpilih sebagai wakil siswa berprestasi di Kabupaten! Meski dirinya memang terbilang punya banyak prestasi dan fisik yang sempurna, cewek yang ingin melanjutkan SMA ke SMAN I Sidoarjo ini tetap selalu menggunakan konsep padi merunduk dalam hidupnya. “ Bagiku… semakin tinggi posisi seseorang, maka haruslah ia semakin menjadi merunduk dan merendah. Namun jika posisi seseorang itu merendah, maka haruslah ia berusaha selalu tegak dan tinggi. Yah…, ibarat padi! Semakin tua dan berisi akan semakin menunduk.”

Selama menjalani karantina Putra-Putri Spindi, Stefeni punya visi-misi: menciptakan dan mengajak siswa-siswi SMPN I Candi menjadi siswa yang cinta lingkungan hijau, siswa yang penuh prestasi. Ck, ck, ck! Semoga aja Feni bisa benar-benar mengajak semua sobat Mac’z atau siswa-siswi SMPN I Candi seperti apa ia harapkan. “Insya Allah, aku pengen banget ngajak teman-teman jadi siswa-siswi yang berprestasi dan cinta lingkungan hijau. Aku akan berusaha memberi pengaruh poritif terhadap teman-teman…”

Memberi pengaruh? (tapi posistif). Kalimat yang terdengar sederhana ini ternyata adalah kalimat yang selalu dipegang kuat oleh Feni. “Mamaku pernah bilang, jangan mudah terpengaruh orang lain. Tapi berusahalah memberi pengaruh terhadap orang lain, tapi pengeruh yang positif. Dan kata-kata itulah yang sampai sekarang mengiringi tiap langkah ku. Bagiku itu bermakna banget!”

Memang, melihat zaman yang semakin global saat ini. Banyak orang berlomba-lomba untuk maju, dan disitu kita dituntut untuk lebih maju pula. Tapi terkadang kita tak tau, bahwa kita sering mendapat pengaruh negative dari orang-orang sekililing kita. Nggak usah jauh-jauh, kita lihat gaya bahasa remaja atau teman-teman kita sekarng. Bahasa ibu kini perlahan hamper samar. Dunia sastra kini hamper tak terdengar. Nah, kebetulan sekali pada babak terakhir sesi Tanya-Jawab dalam ajang Pemilihan Putra-Putri Spindi, Stefani mendapat sebuah pertanyaan dari Bpk. Wahyuaji mengenai perkembangan bahasa Indonesia menurut pendapat Stefani. Dan Feni mengakuinya memang benar bahwa bahsa ibu kini perlahan samar akibat kemajuan zaman.

Ngomongin soal perkembangan zaman dan realita remaja. Anak SMP ‘kan banyak ‘tuh yang udah punya pacar. Kalau Feni….? “Hm, gimana ya. Aku sih sampe sekarang masih jomblo tuh!” ( oh ya? Ada lowongan dong.) Saat itu juga, teman-teman yang tengah mengerubungi Feni tertawa usil. Dan Mac’z berusaha mendesak Feni. Tapi Feni ternyata emang benar-benar jomblo. Trus, kalau buat cowok-cowok yang pengen daftar (ciee…) tipe cowok yang bagaimana sih buat Feni. “Kalau aku sih standart aja. Pertama dia cakep tapi nggak sok kecakepan. Trus, tegas. Dewasa. Wawasan luas. Nggak playboy. Setia. Pengertian. Humoris. Fisik atletis. Tegap. Jujur. Yah…gitu deh! Yang penting agama, keluarga, sifat dia dan cakep!”

Ohohoho. Banyak juga rentetan syarat kalau pengen daftar jadi calon pacar nih! And Last…Berhubung waktu yang nggak banyak. Feni dan kru Macanssa mengakhiri wawancara. Pesan terakhir “Pertama buat Kakak kelas IX. Buat kalian, jangan lupakan kami adik-adik kalian dan semoga sukses selalu di SMA. Buat adik kelasku, teruskan kreatifitas seni kakak-kakak OSIS kalian ya. Buat semua sobat-sobat tercinta di 8c, dueh…thanks banget lho dukungan kalian pas di pemilihan kemarin. Tetap kompak setia selalu, jadikan kelas kita bagai rumah kita! Buat cowok-cowok 8c, jangan mau kalah sama yang cewek…!”

Wuih…! Menjadikan kelas bagai rumah? Feni pasti punya kesan tersendiri dong di 8c. “Yap! Banget… Udah dua tahun aku mengenal semua teman-temanku. Meski terkadang ada guru-guru yang rada sensi sama kita-kita, 8c tuh selalu berusaha baik dimata guru. Mereka kompak. Seru. Menurutku, 8c gudangnya anak-anak kreatif. Mulai dari yang pinter basket, ada. Sepak bola, ada. Dance. Lalu, Puisi, Sastra, Jurnalis, pinter dibidang Studi, Grafity, Syamroh. Lengkap deh!” (promosi…) hehehe.

Mau kenalan lebih jauh lagi dengan cewek pecinta lagunya PinKan “Biar Kau Rasa” dan Sherina “Primadona”?! Kalian bisa kenalan lewat Friendster nya di Stefanie_pupy@yahoo.com atau via telepon di 031-89644xx atau di Handphonenya di 085648676xx (cari sendiri dua angka yang dikasih xx…Nomernya kurang dua angka lagi kok!) bisa juga langsung kontak ke kelas 8c. “Kalau pengen jadi temanku, silahkan. Asal kamu tipe teman yang setia, jujur, nggak bermuka dua, connect buat ngomong. Aku mau juga mau jadi sohibmu…”

(Irsha_Shekespaere; Red-Mac’z)

PASAR TERAPUNG HANYA DI KALIMATAN

Hai apa kabar sobat MaC’z ? kali ini di rubric Budaya, MaC’z akan memperkenalkan Budaya Kalimantan yaitu “Pasar Terapung”. Ha? Pasar Terapung? Yup! Kalian pernah lihat jeda iklan-nya RCTI…? Nah, disana ‘kan ada orang-orang yang berjubel buat jual-beli diatas perahu kecil di laut. Itu yang dinamakan Pasar Terapung. Nah, mau tau lebih jelasnya…?!

Indonesia memang terkenal dengan budayanya yang bermacam-macam. Salah satunya adalah budaya Kalimantan yang jarang dikenal oleh banyak orang. Kalimantan mempunyai suku asli yaitu suku Dayak. Suku dayak tidak mau hidup berkelompok dengan

rang-orang pribumi, melainkan di hutan atau pelosok. Bila suatu benda memiliki

suatu kekuatan halus, maka benda itulah yang akana mereka sembah. Tetapi seiring majunya jaman, keberadaan suku dayak semakin sedikit. Karena sudah banyak pendatang atau transmigran yang memperngaruhi mereka. Sehingga, sekarang daerah Kalimantan pun tidak kalah maju dengan Jawa.

Di Kalimantan, banyak terdapat sungai dan rawa-rawa. Itu sebabnya, kebanyakan mata pencaharian penduduk Kalimantan adalah nelayan. Dan lebih uniknya lagi, semua penduduk disana diwajibkan dapat berenang. Wah! Pasti

anak-anak Kalimantan pinta sekali berenang ya. Selain itu, mereka juga sering makan ikan hasil tangkapan.

Di Kalimantan juga ada adapt yang menarik lho1 Kalau di Jawa, Pasar buka setiap hari dan ditempat yang sama. Tapi bila di Kalimantan ada pasar terapung yaitu pasar yang letaknya diatas sungai dengan menggunakan perahu. Jadi para pedagang dan barang dagangannya berada di perahu. Sedangkan pembeli, harus turun ke sungai dengan perahu atau membeli di dekat Sungai atau daratan tepi sungai. Sayangnya, pasar ini hanya ada satu kali dalam seminggu. Maksudnya bila hari Senin di Kecamatan A, maka di hari Selasa di Kecamatan A tidak ada. Tapi di Kecamatan B ada.

Adat perkawinan orang Kalimantan juga dibilang berbeda dengan Jawa. Di Kalimantan, bila ingin menikah, orang laki-laki harus embeli calon istri. Bila perempuan itu cantik, pintar, dan kaya, maka harganyapun makin tinggi. Orang Kalimantan menyebut adat ini dengan “Jujuran”. Bagi perempuan yang ingin menikah, mereka harus melakukan “Balimung” yaitu semacam spa tetapi caranya tradisional. Yang digunakan sebagai uap adalah air panas yang direbus dengan daun pandan dan beberapa macam bunga. Agar tubuh pengantin terlihat segar dan bersih. Selain itu, pengantin perempuan dan lelaki diwajibkan memakai pacar ( kutek dari Arab yang berbentuk serbuk ). Pada saat pengantin memasuki panggung pengantin akan ditaburi beras kuning yang telah dibacakan do’a. hal ini betujuan agar kedua pengantin selamat dan sukses dalam menjalankan rumah tangga. Pesta perkawinan di Kalimantan hanya di laksanakan pada siang hari saja yaitu pda jam 7 sampai 2 siang.

Di bulan Puasa, Kalimantan merupakan daerah yang kebanjiran kue. Para pedagang kue selalu berjualan pada sore hari menjelang buka. Kue yang paling laris dan disukai penduduk adalah kue wadan.

Pada hari raya Idul Adha, masyarkat Kalimantan banyak menyembwlih kerbau. Sebab, jarang sekali terdapat kambing atau sapi.

Sawah di Kalimantan hanya bisa ditanami pada musim kemarau saja. Itu karena bila musim hujan, sawah penuh dengan air. Sehingga petani di Kalimantan hanya bisa panen satu tahun sekali. Anak-anak Kalimantan juga pandai bermain lho! Mereka sering bermain Logo. Logo dibuat dari plastik yang dibakar lalu dicetak sehingga membentuk lempengan bulat. Kemudian lempengan itu di lempar dengan kayu agar mengenai lempengan kawan.

Kalau iu mainan bagi kalangan anak sekolah. Maka orang tua juga punya cara bermain sendiri. Pada ibu-ibu, bila ingin menidurkan anaknya. Bayi mereka diayun-ayunkan. Tetapi bukan diayunan, melainkan pada kain yang kaitkan pada seutas atau dua ranting pohon. Kemudian, bayi mereka masukkan pada celah di kain tersebut lalu diyunkan sambil berdendang.

Uuh…, asyik juga berkelana menjelajah di Kalimantan. Pengen tau nih, orang dayak yang asli tuh seperti apa? Weits?! MaC’z masih punya segudang budaya-budaya Nusantara lainnya buat semua sobat MaC’z yang setia. Edisi besok, budaya mana nih ya. Dueh, nggak sabar pengen berjelajah….^_^

( Fadlun; Redaksi MaCanssa

GERBONG TERAKHIR

Indra H


Tut... tut... tut....
Raungan cerobong kereta tua disertai kepulan asap hitam membumbung tinggi seolah-olah menyertai keheninganku di tengah-tengah keramaian yang membalut perjalanan, yang memayungi kepenatan, yang mengusir kesunyian, dan yang pasti akan menuntunku ke sebuah tempat dimana kenangan banyak bersemayam disana.
Kota tua, kumuh, padat dengan berjubel ratusan orang yang berebut tempat untuk sekedar bersandar mencari seberkas sinar diantara gemerlap cahaya yang menyilaukan bahkan tidak segan-segan membutakan mata segelintir nyawa yang hatinya selalu dihinggapi kelalaian akan cahaya yang sesungguhnya.
Seperti telah sampai di ujung, keturutsertaanku untuk menjadi bagian dari mereka kini berakhir sudah. Setumpuk beban yang senantiasa bercokol di pundakku kini telah aku rebahkan. Harapan besar yang empat tahun silam begitu aku dambakan, kini segalanya telah aku raih dengan hitam di atas putih yang baru saja kuterima belum genap sebulan lamanya. Ribuan orang yang mengharapkan embel-embel gelar di belakang namanya, kini telah aku luluskan dan seperti muncul ke permukaan, aku hadir diantara mereka, turut serta meramaikan bursa lowongan kerja yang sudah barang tentu menjadi momok yang tak pernah lalai mengikuti dan memberatkan langkahku yang telah terseret-seret ini. Entah kenapa aku belum pernah merasa sekhawatir ini, bagiku keluar dari bangku kuliah seperti masuk dan duduk di bangku yang penuh dengan segudang masalah.
***
Dengan jaket lusuh yang selalu mengiringi kepergianku dan tas kumal yang senantiasa menyimpan segala keluh kesahku, kuyakinkan bahwa hari ini adalah hari di mana untuk kali terakhirnya aku berada di kota ini. Kota yang keindahannya telah usang terkikis deru derap langkah jaman yang hadir bertubi-tubi tanpa kendali.
Kutenteng ribuan kata sebagai oleh-oleh buat segenap kerinduan yang telah siap meluap menyerbuku. Menjelang fajar yang hadir menyibak sinar kegelapan, aku bangkit. Entah mengapa langkah kakiku terasa amat ringan seolah-olah aku berjalan tanpa menyentuh tanah sedikitpun. Di depanku telah terpampang rangkaian gerbong kereta yang tampak jelas catnya mengelupas di sana-sini menghiasi sekujur tubuhnya yang selalu mengiba belas kasih dari kehadiran manusia yang silih berganti hinggap memenuhi seisi perutnya.
Pengap, sesak, kusut campur aduk mewarnai rangkaian gerbong yang telah nyaris lenyap termakan usia. Segera kududuk di dekat jendela, kurebahkan kecemasan, kusingsingkan segala kerinduan yang telah lama turut serta bersamaku. Genap enam gerbong terjalin erat bergerak beriringan dan sebagai pamungkas, gerbong yang kutumpangi mengekor menutup jalinan dengan kebisingan yang amat sangat. Jutaan kata dari keasingan telah menyumpal telingaku, menulikan kepekaan yang selama ini selalu aku usung sebagai senjata ampuh untuk peduli terhadap sesama.
Namun tiba-tiba saja pandanganku terlontar mengarah kepada salah seorang yang turut singgah pula di kereta ini.

Tampak seorang tua dengan pakaian yang tanpa kuduga justru lebih lusuh dari yang kukenakan. Wajahnya yang teduh penuh kesejukan telah memayungiku keluar dari nuansa kecemasan yang sejak tadi telah menghisap sari-sari ketenangan. Tanpa pikir panjang aku bangkit dari cengkeraman bangku yang telah lama mengikatku. Kupersilakan nenek tua itu menggantikan posisiku. Dengan senyum simpul dan sebuah kata singkat yang selama ini selalu aku agungkan -terima kasih- mencuat dari bibir tipisnya. Kemudian dia beralih merebahkan keletihan yang terpancar kuat dari sekujur tubuhnya. Kutatap wajah kesederhanaannya yang kaya akan aroma sahaja yang begitu akrab bersanding dengannya. Sepertinya terbentang jarak yang sebenarnya tidak terlampau jauh bahkan terkesan begitu dekat antara diriku dengan dirinya, meskipun wajah asingnya bagiku tetap menjadi jurang dalam yang membelenggu keakraban sesaat yang menyimpan banyak tanda tanya.
***
Tiga jam berdiri, telah menghunusku dengan kecapaian yang menusuk-nusuk tulang kakiku. Segera aku susuri gerbong demi gerbong mencari celah untuk sekedar menambatkan rasa letih yang telah lama tertanam memenuhi raga ini. Alunan musik gaduh kereta terus saja menderu. Iramanya yang aneh, kini senantiasa menghiasi suasana bising yang telah lama mendahuluinya.

Dari kejauhan muncul kondektur paruh baya yang telah begitu fasih melubangi karcis dari gengaman penumpang. Sesekali dia melirik tajam tingkah laku para penumpang yang kadang mengusik matanya yang kutaksir telah menatap dunia ini tidak kurang dari setengah abad lamanya. Entah kenapa ia begitu menikmati pekerjaannya itu, padahal berada di kereta ini untuk sejenak saja telah membuatku tersiksa, sedangkan baginya kereta ini tidak lain adalah tempatnya untuk menambatkan hidupnya. Aneh.... Sungguhkah ia menikmati pekerjaanya itu? Atau dia telah menyerah kepada keadaan...?

***

Tanpa aba-aba, rangkaian gerbong yang telah lama menerobos kesunyian dengan kegaduhan kini semakin lama semakin larut dalam keheningan dan berhenti di tengah padang hijau yang bagai permadani menyelimuti permukaan dunia.
Banyak diantara penumpang yang terlontar dari mulut mereka keluhan-keluhan memuakkan menyibak hawa panas yang menyengat membalut seisi gerbong.
Ada apa sih Pak, kok tiba-tiba keretanya berhenti? tanya salah seorang penumpang dengan aroma ketus yang begitu kental.
Kapan sampainya kalau berhenti begini! timpal mereka yang lain.

�Buruan dong Pak, keburu gerah nih! desak mereka dengan pertanyaan bertubi-tubi menghujani kondektur yang wajah keriputnya perlahan-lahan terlihat mulai memucat.
Segera ia susuri gerbong, mencari sebab-musabab yang menghentikan laju kereta sambil berteriak-teriak memanggil rekannya yang lain. Tak sampai lima belas menit ia kembali hadir di tengah-tengah penumpang dengan peluh bercucuran mengairi wajahnya.
�Maaf, kebetulan di gerbong belakang ada salah satu penumpang yang meninggal mendadak, jadi terpaksa kereta harus berhenti untuk membawanya segera ke Rumah Sakitï

Innalillahi wa Innaillaihi Rojiïun, sahutku pelan menanggapi perkataan kondektur itu.
Apakah ini sebuah resiko yang harus ditanggung penumpang...? Kematian yang tidak terduga akan selalu membayangi mereka dan tidak segan-segan untuk menerkamnya suatu saat. Ketidaknyamanan dan ketidakamanan menjadi pengikut setia bagi mereka yang memilih memanfaatkan fasilitas dengan uang tidak seberapa. Tapi bukankah sangat tidak adil jika nyawa harus dihargai dengan harta...?
***
Tepat pukul tiga sore aku turun dari kereta dengan kenangan kematian seorang penumpang masih saja terngiang di pikiranku. Segera kuhapus hal menyeramkan itu dari pikiranku. Bagiku, mengingatnya seperti kembali makan duri tajam yang sewaktu waktu menggores dan meninggalkan luka yang begitu dalam.

Bergegas kusuri jalan yang empat tahun silam terasa begitu akrab, namun kini sangat angkuh menyapa kedatanganku. Tanpa basa-basi aku menghampiri sebuah bus kota yang harapanku akan mengantar diriku kembali ke suatu tempat indah yang begitu kudambakan dan tentu saja inginku iringan kejadian naas di kereta tadi tidak ikut bersamaku di bus kota ini.

Segera kusibak jendela bus lebar-lebar, mencoba mencari kenangan yang mungkin saja masih terselip diantara gerombolan pepohonan dan hembusan angin pedesaan.
Keasriannya tidak lekang oleh hempasan modernisasi, itulah yang sekarang ini aku rasakan dan semoga saja harapanku ini akan senantisa terkabul.

Tampak hadir dari kejauhan sebuah desa kecil menghadangku, memelukku dengan penuh kehangatan. Melalui hembusan angin, suara gesekan dedaunan, dan kicauan burungnya yang telah menjabat tanganku dengan ramah. Nuansa kepenatan yang senantisa menggandeng langkahku tak kutemukan disini. Begitu indah, begitu damai, begitu tenteram. Itulah yang selalu kurasakan ketika kembali berada di kampung halaman.

Tak terasa tibalah aku di halaman rumah sederhana yang selalu kuimpikan penantiannya. Rumah yang memberiku keindahan kehidupan melalui kesahajaan yang senantiasa terpancar di dalamnya.
Namun pemandangan tak biasa telah menyergapku. Sekawanan orang berkerumun di rumahku. Tampak raut wajah mereka yang muram, pucat, dan bahkan beberapa diantaranya tampak terisak menahan air mata. Segera kupercepat langkahku menghampiri mereka.

Dengan berusaha keras untuk menunjukkan deretan giginya mereka menyambutku. Kuhampiri segera pamanku yang kebetulan ada tidak jauh dari tempatku berdiri.
�Ada apa Paman, ada apa ini?� tanyaku tanpa pikir panjang karena rasa penasaran yang telah menggebu-gebu menerpaku.

Kamu masih ingat dengan Mbok Iyem? Pengasuhmu dulu sampai kau berumur lima tahun?ïbalas pamanku justru dengan pertanyaan yang sedikit banyak membuat dahiku berkerut.
O... iya, kenapa dengan Mbok Iyem Paman? kembali aku balas pertanyaan paman dengan pertanyaan pula walaupun pada dasarnya aku sendiripun masih ragu-ragu mengutarakannya.
Baru saja Mbok Iyem meninggal dunia karena serangan jantung sewaktu dia mau kembali dari luar kota, jawab pamanku dengan tertunduk lemas sambil menghela nafas panjang berusaha menabahkan hatinya yang dihimpit kesedihan yang mendalam.

Innalillahi wa Innaillaihi Rojiun,desahku mengiringi jawaban paman.

Samar-samar aku menerawang berusaha mengingat sosok mbok Iyem yang dulu mengasuhku dengan segenap jiwanya, berusaha membesarkan ragaku tanpa pamrih sedikitpun. Beliau pulalah yang selalu memupuk hatiku dengan keimanan yang tiada ternilai harganya. Sungguh kasih sayang yang tiada terkira hingga bingung bagaimana aku harus membalasnya dan kini justru ajalnyalah yang menyambutku.

Segera dengan tergopoh-gopoh aku masuk ke dalam untuk sekedar menatap wajahnya untuk kali terakhir. Entah seperti apa wajahnya kini, seonggok kegiatan dunia telah membuyarkan ingatanku tentang kesederhanaannya yang bagiku justru merupakan hal termewah yang pernah aku alami. Kini hanya doa yang bisa aku usung untuknya selain ucapan terima kasih yang tak henti-hentinya mengalir dari mulutku ini.

Ya Allah..., ratapku ketika kusibak tirai penutup wajahnya yang putih bersih. Tak kusangka nuansa kesejukan yang memayungiku ketika berada di dalam kereta dengan disertai senyum simpul itu ternyata ada pada sosok mbok Iyem yang kini terbujur kaku tepat dihadapanku. Nenek tua yang menggantikan posisiku untuk sekedar merebahkan keletihannya di gerbong terakhir kini benar-benar membuatku letih karena kepergiannya. Yang kutakutkan ternyata kini harus aku alami.

Untuk kesekian kalinya terpaksa aku harus berkenan menelan duri tajam yang siap melukai hatiku. Hanya ketabahan yang bisa menjadi penawarnya. Perjumpaan yang begitu singkat telah mengantarkanku pada perpisahan yang panjang. Aroma kebisingan yang tertuang dalam gerbong terakhir menjadi saksi bisu yang menuntunnya ke jalan yang tiada mengenal ujung. Langkah kaki yang memaksaku singgah di gerbong terakhir jelas senantiasa melekat dalam pikiranku dan tak pernah akan terkelupas sedikitpun.

Gerbong terakhir... ya... di gerbong terakhir itu benar-benar nyata terakhir kalinya aku bertemu sesosok manusia yang begitu berjasa dalam hidupku. Gerbong terakhir.... ya.... di gerbong terakhir itu yang menyimpan peristiwa memilukan. Peristiwa yang sama sekali belum pernah terbayang olehku.
Selamat jalan mbok Iyem, semoga surga terindah akan menjadi tempat bersemyamnya dirimu. Berbahagialah atas budi baik yang telah engkau semaikan.

Terima kasih dan sekali lagi terima kasih, gerutuku berkali-kali seraya kembali menutup kain putih yang menghiasi wajah heningnya dengan diiringi derai air mata yang tak terelakkan lagi mengalir deras.

Gerbong terakhir.... ya... di gerbong terakhir itu yang benar-benar menjadi akhir...Ω

Polantas, Tak sekadar Melintas

Whusss!

Ribuan kendaraan mulai dari roda dua sampai yang beroda delapan belas (baca= truk gandeng) berlalu dengan berbagai kecepatan. Dua orang lelaki mengawasi lalu lalang kendaraan, meski harus menantang terik dan debu yang menerpa. Seolah menjadi kebiasaan, karena atas dasar pengabdian. Coba bayangkan! Sebegitunya ‘mereka’ rela berjam-jam berdiri mengawasi kendaraan di bawah terik, menghirup debu dan asap, diusik deru-deru dan desingan suara mesin yang bising.

Berlandaskan pengabdian pada negara. Guna Mengayomi, Melayani dan Melindungi masayarakat. Polantas di wilayah Larangan-Candi saling bergantian menjaga keamanan lalu-lintas di perempatan dan jalur utama sidoarjo-malang tersebut. Sebut saja Bapak Bambang, dia mengaku cukup lelah juga dari pagi hingga malam berdiri diam dibawah terik matahari dan ditengah kerumunan asap kotor juga suara bising yang saling menyahut. Belum lagi kalau ada kecelakaan.

“Kalau panas, itu sudah biasa. Juga asap-asap dan desingan motor. Tapi terkadang saya suka pusing, membayangkannya saja saya sudah belibet (red=bingung/puyeng) kok! Tapi gimana lagi ya, dik. Ini sudah menjadi suatu resiko kalau ingin mengabdi pada Negara. Lagipula saya enjoy saja. Tiap pagi dan siang ‘kan selalu banyak anak sekolah yang mau menyebrang, saya jadi ingat anak saya.”

Bapak dari tiga orang anak ini ternyata salah satu dari ketiga anaknya ada yang alumni Spindi lho! “Iya… sekarang dia udah smu kelas tiga.” Waktu Mac’Z ingin mengungkap siapa namanya Pak. Bambang tidak memberitahu (kenapa?) Yang jelas dia cewek, pinter, alumni Spindi sekitar tahun 2001-2003 gitu! Wah, siapa ya….?

Bukan hanya Pak. Bambang saja yang bertugas di Pos Polantas Larangan-Candi. Ada sekitar tujuh orang Polantas lain yang berjaga di Pos tersebut. Yaitu Pak Candra, Pak Bagiyo, Pak Septian, Pak Slamet, Pak Indra, dan Pak Shaleh. Karena kebetulan keenam Polantas itu sedang bekerja, Mac’Z Cuma bisa mewawancari Pak Bambang saja yang kebetulan sedang berteduh didalam pos bersama Pak Candra dan Pak Septian. Pak Cndra dan Pak Septian saat itu sedang mengurusi administrasi seorang warga. Sedangkan empat polisi lainnya sedang turun dijalan untuk menjaga lalu-lintas. Siapa tau ada anak sekolah yang nekad menerobos traffic light….

Menurut Pak Bambang, masalah lalu-lintas sebenarnya justru banyak yang timbul dari anak sekolah dan remaja yang ugal-ugalan lho! Pasalnya, anak sekolah dibawah usia ketetapan SIM yang berlaku sebagaimana mestinya itu terkadang nyeleweng. Mereka nekad bawa motor padahal belum punya izin tetap dan sah, lalu mereka juga sering bikin ulah dijalanan. Sebenarnya itu masalah yang paling sukar buat Polantas.

“Nggak usah jauh-jauh. Kalian tentu ada yang udah bawa sepeda motor ke sekolah ‘kan?” spontan kru Macanssa tertawa dan mengangguk tersipu-sipu (Emang banyak kok Pak! Ngaku!) “Nah, harusnya ‘kan nggak boleh… Standartnya usia 16! Trus, coba lihat teman-teman kalian. Ada kan yang suka kebut-kebutan? Juga ada yang motornya cuma punya mata satu (baca=spion motor). Trus, joknya ditinggikan. Atau plat nomernya ditempel dirumah (alias nggak ada plat-nya)?” sekali lagi kami jadi malu.

“Masalah seperti itu biasa timbul pada kalangan anak sekolah dan remaja. Sebab emosi mereka masih belum labil. Kalau udah punya SIM juga tetap bakal kena TILANG. Boleh kok kalian mau bergaya buat gengsi-gengsi an sama teman-teman, tapi harus memperhatikan standart kendaraan bermotor yang semestinya. Polisi memberi Bukti Pelanggaran pada kalian itu untuk kebaikan kalian juga.”

Hm…., iya juga. Sobat MaC’z pasti tau mana yang bener dan yang salah. Sobat MaC’z pasti banyak juga ‘kan yang suka mengotak-atik sepeda motor kesayangan kalian biar makin jreng!. Tidak ada yang melarang. Asal, seperti kata Pak Bambang, harus memperhatikan standart –nya. Juga harus memperhatikan lalu lintas. Permasalahan para muda yang ugal-ugal dalam berkendara biasanya terjadi di kawasan perkotaan. Selain tempatnya yang rawan kecelakaan, juga karena jalan rayanya yang luas sehingga para remaja leluasa untuk ngebut.

“Tapi, kalau bisa sih. Lebih baik menunggu SMU aja dulu, deh! Lagipula, hanya kurang beberapa tahun saja kan? Sementara bisa naik Angkot atau Sepeda Mini. Jauh lebih aman buat kalian. Selama kalian bisa mematuhi peraturan, selama itu pula orang segan pada kalian. Lakukan apa yang sebenarnya bisa kalian lakukan.” Kata Pak Bambang menambahi.

Memang benar. Selagi kita bisa naik Angkot atau Sepeda Mini, kenapa tidak? Toh jauh lebih aman. Lagipula tak beda jauh dengan naik sepeda motor. Kalian juga ikut berjasa mengurangi polusi karena kalian memperminim penggunaan kendaraan bermotor yang merupakan sumber polusi. Kalau naik sepeda mini, bagi kalian yang big size, bisa dijadikan ajang buat diet. (hihihi) Asyik kan?

Pihak Polantas sebenarnya sudah sering melakukan acara-acara seminar dan penyuluhan di sekolah-sekolah untuk mengatasi masalah ini. Tetapi, jika dari dalam hati si pelaku saja tak ada kesadaran diri yah mana mungkin bisa. Jadi, buat para sobat MaC’z… Mulai buka diri kalian sendiri. Serap dan ingat semua yang dikatan Pak Bambang. Bantulah tugas Pak Polantas atau Polwan disekitar kita. Hormati peraturan lalu lintas sebagai semestinya. Itu semua juga untuk kalian.

Pesan terakhir Pak Bambang “Sebenarnya saya salut sama siswa-siswi SMPN I Candi. Setiap pagi dan siang pulang sekolah, selalu teratur dalam menyebrangi traffic light. Tapi saya juga sering memberi Bukti Pelanggaran (TILANG) pada lebih dari satu siswa-siswi SMPN I Candi lho! Tetap patuhi peraturan ya. Polantas itu bukan hanya sekadar melintas melihat lalu lintas, tapi mengerti mana yang pantas dak tidak. Jika ada yang menyeleweng, kami sigap dan siap membarantas agar jadi benar. Dan selalu Mengayomi, Melindungi, Melayani Masyarakat!”

Oke deh, Pak! Sobat MaC’z semua akan selalu memperhatikan peraturan lalu-lintas…. ^_^

IRNING ATSILAH

(Irsha_Shakespaera# Red-MaC’z)